Sejarawan Unimed Akui Kajang Batu Makam Sultan Aceh

TDC-Sejarawan dari Universitas Negeri Medan, Prof Dr Ichwan Azhari MS mengakui bahwa Kajang Batu adalah makam Sultan Aceh. Hal tersebut disampaikan Prof Ichwan saat menerima silatutahmi Masyarakat Peduli Situs Islam Sumatera Utara (Sumut).



"Ya, tahun lalu saya ke lokasi makam Kajang Batu itu. Saat itu, photo-photo makam saya kirimkan ke Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa). Mereka mengatakan itu memang benar makam Sultan Aceh yang mereka cari-cari," ujar Ichwan Azhari, Sabtu, (29/1/2022).

Lebih lanjut dijelaskan Ichwan, saat itu, dada saya sesak. Menyeberangi titi bambu yang hampir patah, naik ke atas dataran tinggi. Saya berjuang agar dada tak makin terasa sesak. 

"Sesak melihat hamparan ceceran patahan patahan nisan dan penghancuran kompleks pemakaman Sultan Pasai abad 15, di Klambir Lima, enam Kilometer di perbatasan Barat Laut Kota Medan, di bibir kebun PTPN 2. Saya pegang kepingan inskripsi nisan, perlihatkan lewat video call ke Mizuar Mahdi, Ketua Mapesa. Suaranya parau, terdengar mengulang ulang. Ya, ya, agaknya itu makam Sultan Pasai yang kami cari-cari, makam Sultan Pasai yang berada di kerajaan Aru. Ini Sultan Pasai yang makamnya belum ditemukan sampai

saat ini di Aceh," jelas Ichwan menirukan perkataan Ketua Mapesa dalam percakapan mereka kala itu.

Diungkapkan Ichwan, saat itu, tangan saya mencoba membersihkan semak-semak sekitar makam, mematahkan ranting daun petai liar, mencari-cari sambungan inskripsi yang patah di sela runtuhan. 

"Segera nampak balok batu besar dan sebaran batu bata unik yang menandakan ini bukan makam orang biasa, ini kompleks makam orang besar. Dari video call kedengaran lagi suara Mizuar itu pola struktur bangunannya sama dengan kompleks makam sultan sultan Pasai di Aceh. Balok balok tembok batu, sebaran batu bata itu sama". Suara Mizuar itu menambah rasa gelisah dan risau saya disela sela runtuhan peradaban besar yang menyimpan misteri, jejak peradaban besar Islam di provinsi yang punya Gubernur dengan motto bermartabat," ungkapnya.

Kata-kata Mizuar di video call yang memastikan ini kompleks makam Sultan Pasai di kerajaan Aru, menimbulkan banyak tanda tanya. Oleh karena itu, Ichwan sangat mengapresiasi niat luhur dari Masyarakat Peduli Situs Islam Sumut.

"Niat luhur dari Masyarakat Peduli Situs Islam ini tentu sangat kita apresiasi. Sebab, gerakan ini menyelamatkan situs-situs sejarah perdaban Islam. Itu bisa membantu akademisi maupun sejarawan untuk melakukan penelitiannya," ucapnya.

Kedepan, kata Ichwan, ia berkomitmen untuk berkolaborasi dan mendukung niat luhur komunitas Masyarakat Peduli Situs Islam ini.

"Sekali lagi, kami dari sejarawan dan akademisi sangat mendukung gerkan ini. Karena ini sangat berkontribusi dengan dunia ilmu pengetahuan, khususnya terkait sejarah Islam di Kota Medan," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Masyarakat Penyelemat Situs Islam Sumatera Utara, Achmad Riza Siregar yang didampingi Ustaz Khairul dan Ustaz Budi serta Tugino dan Rijam Kamal Siahaan akan menggandeng akademisi dan sejarawan untuk penyelamatan situs-situs Islam di Nusantara, khususnya di Sumut, terlebih Kota Medan.

"Upaya yang kita lakukan ini tidak lain untuk menyelamatkan situs-situs Islam. Agar ke depan, generasi penerus bangsa dapat mengetahui sejarah bangsanya," kata Riza.

Selain akademisi dan sejarawan, kata Riza, pihaknya siap berkolaborasi dengan semua pihak yang ingin berkontribusi dalam penyelamatan situs-situs bersejarah.

"Sebab, Bung Karno memgatakan, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Jangan Melupakan Sejarah (Jasmerah)," pungkas Riza.

Sebelumnya, Masyarakat Penyelamat Situs Islam Sumatera Utara berziarah ke Makam Kajang Batu di Dusun II-B, Desa Kelambir V Kampung, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang.

Makam yang ditaksir berusia 500-600 tahun di kelilingi kebun melati milik masyarakat itu diyakini adalah makam Sultan Pasai.

Selain makam Kajang Batu itu, di kecamatan yang sama terdapat 5 titik makam dengan nisan serupa dan sama-sama tak dirawat.

Lebih baru Lebih lama